Kamis, 28 Juni 2018



Penerapan Prinsip Larasan Dalam Gamelan Wilahan Dan Pencon
         Pelarasan pada alat music tiup atau dawai (kawat) lebih sederhana dan mudah dibandingkan pelarasan pada gamelan wilahan dan pencon. Pelarasan gamelan terdapat banyak kendala yang berasal dari teknisnya (factor manusiannya) dan yang berasal dari sifat material logamnya. Dari segi teknisnya dalam proses pelarasan ini banyak dibutuhkan peralatan penunjangnya selain pengetahuan dan keahlian, juga terkait erat dengan kepekaan pendengaran si pelaras. Dan dari segi material logam tentu juga akan berbeda-beda sifat atau karakternya gamelan yang dibuat dari besi baja, kuningan, singen dan perunggu. Juga pengaruh ketepatan paduan unsure logam sangat besar pengaruhnya terhadap kualitas dan kestabilan larasan gamelan yang terbuat dari perunggu, singen dan kuningan. Maka dalam pelarasan gamelan logam ini  lebih sulit mencapai ketepatan atau presisinya, toleransinya bisa mencapai 25 cents. 
Teori Hardjosubroto
             Berdasarkan dari sifat atau karakter logam paduan perunggu yang terbentuk oleh karena kelemahan teknis proses pembuatannya, maka terjadi kemungkinan bahwa kempyung yang bagaimanapun murninya  (702 cents) yang terbentuk pada pelarasan gamelan wilahan dan pencon pada awalnya, lama kelamaan akan berubah naik atau turun hingga maksimum 25 cents. Dengan kempyung tiga macam (675, 700 dan 720) disusun laras dengan model Hornbostel, yaitu mengembalikan deretan kempyung 6 buah ke dalam satu gembyangan, maka akan terbentuk 3 laras yg memiliki sruti-sruti atau interval-interval sebagai berikut:
 
Keterangan gambar:  Bila kempyungnya bertambah besar, lima sruti yang mulanya kecil ( 150 )dalam pelog itu akan bertambah besar, dan dua sruti yang mula-mula besar (225) dalam pelog itu akan mengecil hingga habis sama sekali dalam Slendro. Jadi kesimpulannya :
1.    Laras Pelog, laras slendro dan laras diatonic terbentuknya dengan jalan yang sama, yaitu deretan kempyung diringkas kedalam satu gembyangan.
2. Pengisaran pelog ke dalam slendro melewati nada-nada diatonic itu karena bertambahnya kempyungan.
3.     Tambah atau berkurangnya kempyung terjadi oleh adanya embat, baik yang terbentuk di daerah pelog (atas) dan di daerah slendro ( bawah).
4.      Slendro yang tidak sama rata yaitu slendro yang kempyungnya kurang dari 720 cents, dan melepaskan dua nada yaitu nada pertama (Pl) dan nada ketujuh (Br).
5.      Timbulnya embat yang disengaja dalam Pelog dan slendro disebabkan oleh kebebasan membentuk rasa indah si pelaras.
6.      Timbulnya pengisaran-pengisaran kecil yang terjadi disebabkan oleh factor teknis dan non teknis dalam proses pembuatan yang kurang memadai ( keterbatasan pengetahuan dan teknologi).
7.   Induk nada laras Huang-Tjong dengan frekuensi tertentu tidak ada. Laras-laras itu terbentuk dari frekuensi pangkal yang paling enak dirasakan oleh pelaras, dari sifat karawitan dimana lokasi berada.


LARAS
             Laras memiliki arti kata lurus, serasi atau kesesuaian. Kalau terkait suara,  menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata ‘laras’ berarti  tinggi rendahnya nada  ( suara, bunyi musik dan sebagainya ). Maka sesuai dengan arti kata ini dalam dunia karawitan laras diartikan sebagai; (1) urutan nada dalam jangkauan gembyang (oktaf) yang memiliki jarak nada tertentu  (Soeroso, 1985, ISI Yk), (2) Laras adalah rangkaian nada yang tertentu jumlah dan tingginya (sruti) didalam satu gembyangan. Atau urutan nada dalam satu gembyangan yang tertentu srutinya (Ki Sindoesawarno, 1954:1, Ilmu Karawitan), (3) Laras adalah urut-urutan suara mulai yang paling rendah sampai tertinggi, yang tetap serta teratur swarantaranya (interval), menurut Wasisto Surjodiningrat, dkk. Dalam buku Gamelan dan Komputer, 1977 : 5-6 .
            Sistem nada di dunia dikenal ada dua macam, yaitu system nada DIATONIS  dan system nada PENTATONIS. Sistem nada diatonis yaitu tangga nada yang umum dipakai dalam dunia music dewasa ini yang terdapat satu jenis tangga nada dengan 7 nada dalam satu oktafnya ( do re mi fa sol la si ). Sedangkan system nada pentatonis dikenal ada dua laras (tangga nada), yaitu laras slendro dan laras pelog.
Laras slendro dalam satu gembyangnya (oktaf) terdapat 5 nada yang masing-masing nadanya berjarak hampir sama (240 cents). Jadi dalam laras slendro satu gembyangnya terdapat 1200 cents (240 cents x 5), kl ditulis jarak nadanya menjadi:  1__2__3__5__6__i  ( 1=lr barang, 2=lr gulu/jangga, 3=lr dada, 5=lr lima, 6= lr nem)
Sedangkan  laras pelog dalam satu gembyang (oktaf) terdapat 9 nada, sehingga masing-masing jaraknya adalah 1200 ct : 9 = 133 1/3 ct. Klau dituliskan susunan nadanya menjadi:
1__2__3__x__4__5__6__7__y__i
Tetapi karena jumlah nada dalam setiap ricikan gamelan hanya terdapat  tujuh setiap gembyangnya maka terdapat jarak yang lebih panjang dari jarak rata-rata setiap nadanya:
1__2__3____4__5__6__7____i  (1= lr bem/penunggul, 2= lr gulu/jangga, 3= lr dada, 4= lr pelog, 5= lr lima, 6= lr nem, 7= lr barang )
Sehingga kalau rata-rata berjarak nada 133 1/3 ct, maka ada yang lebih panjang mjd  266 2/3 ct.
Panjang pendeknya jarak ini dimungkinkan dibuat didasari oleh penyesuaian dalam  mencapai rasa keindahan yang diharapkan si pembuat. Contoh penyesuaian ini terlihat dari garepan patet dlm laras pelog yang hanya memiliki 5 nada:
(1). Patet lima :      4__5__6____1__2____4’
(2). Patet enem:    1__2__3____5__6____i
(3). Patet barang:  5__6__7____2__3____5’
           Jarak nada (interval) dalam frekwensi  menurut  buku  Wasisto Surjodiningrat, dkk yang berjudul ‘Penjelidikan Dalam Pengukuran Nada Gamelan-Gamelan Djawa Terkemuka di Jogjakarta dan Surakarta’:
Tabel Data Penelitian Nada Gamelan Slendro :
No
No
NAMA
6
  A
1
  B
2
  C
3
  D
5
  E
6
  F
7
Oktaf
gml
GAMELAN
nem
br
gl
dd
lm
nm
br
cents
1
Sl-21
Lokananta-(kraton Solo)
257
244
296
240
340
259
395
230
451
249
521
259
605
1237
2
Sl-20
Manisrengga-(kraton Solo)
244
244
281
236
322
250
372
246
429
240
493
255
572
1227
3
Sl-22
Swarahardja-(kraton Solo)
253
254
293
226
334
255
387
214
438
257
508
244
585
1196
4
Sl-14
Kanjutmesem-(M.N. Sala)
248
259
288
251
333
238
382
241
439
236
503
252
582
1218
5
Sl-15
Lipurtambaning-(M.N. Sala)
242
246
279
216
316
254
366
234
419
251
484
246
558
1200
6
Sl-27
Konservatori
Kar. Gam. I
278
229
317
225
361
254
418
236
479
256
556
1200
7
Sl-I
Surak (Kraton Jogja)
273
226
312
239
357
248
412
250
476
255
552
1218
8
Sl-5
Madumurti (Kraton Jogja)
268
224
305
233
349
258
405
243
466
258
541
1216
9
Sl-7
Tunggul (P.A. Jogja)
265
238
304
249
351
244
404
228
461
264
537
1223
10
Sl-11
GPH.Tedjakusuma Jogja
274
235
314
228
358
260
416
234
476
267
556
1224
11
Sl-9
Landung GAMA
274
219
311
248
359
247
414
242
476
275
558
1231
Gamelan laras slendro rata-rata;  273_a_312_b_359_c_413_d_474_e_550  dan rata-rata interval masing-masing; a  = 231ct, b = 243 ct, c = 243 ct, d = 238 ct, e = 253 ct  sehingga jumlah rata-rata intervalnya adalah 1208 cents.
Tabel Data Penelitian Nada Gamelan Pelog :
NAMA
1
a
2
b
3
c
4
d
5
e
6
f
7
g
1’
oktaf
GAMELAN
bem
gl
dd
pl
lm
nem
brg
Bem
cents
Semarngigel (kraton Sala)
287
122
308
129
332
301
395
106
420
116
449
187
500
256
580
1218
Kadukmanis (kraton Sala)
292
143
317
111
338
316
406
100
430
132
464
174
513
256
595
1232
Hardjaswara (kraton Sala)
297
135
321
155
351
281
413
113
441
103
468
196
524
219
594
1200
Kanjutmesem (M.N. Sala)
295
141
320
140
347
272
406
139
440
114
470
172
519
245
598
1223
Lipurtambaneng (M.N. Sala)
281
113
300
146
327
430
 ----
-----
419
100
444
-----
-----
-----
567
1214
Konservatori Kar. Gam. I
306
121
328
147
357
272
418
128
450
115
481
194
538
240
618
1218
Kantjilbelik (kraton Jogja)
295
125
317
131
342
267
399
145
434
120
465
149
507
272
593
1209
Madukusuma (kraton Jogja)
276
121
296
129
319
302
380
136
411
106
437
141
474
280
557
1215
GPH. Tedjakusuma Jogja
286
117
306
141
332
284
391
132
422
88
444
164
488
268
570
1194
Landung GAMA
293
103
311
144
338
278
397
150
433
112
462
161
507
281
596
1229
Sedangkan dalam gamelan laras pelog terdapat rata-rata; 279_a_299_b_324_c_381_d_412_e_439_f_481_g_560  dan rata-rata intervalnya;  a= 120 ct, b=138 ct, c=281 ct, d=136 ct, e=110 ct, f=158 ct, g=263 ct  sehingga jumlah rata-rata interval dalam satu oktafnya adalah 1206 cents.
SEJARAH  LARAS
Kempyung Tiup
            Asal mula laras nada dibentuk dari suara nada seruling. Menurut dongeng yang beredar di masyarakat Cina (Tionghwa) pada jaman kerajaan Huang-Ti (250 SM), berawal dari sang Raja yang memerintahkan Ling-Lun seorang niyaga hebat (pemain music) membuat laras nada abadi. Ling-Lung mendapatkan inspirasi dari kicauan burung rangkok yang merdu mendayu, yang membuatnya sangat kagum dan terharu, untuk membuat suara tiruannya. Dari usahanya itu sang niyaga itu berhasil membuat sebuah seruling yang dibuatnya dari buluh bambu. Suara seruling yang mampu menyerupai kicauan burung rangkok itu kemudian dipakai sebagai acuan membentuk standar nada atau laras nada yang diberi nama ‘Huang-Tjong’.
          Laras Huang-Tjong terbentuk dari kempyung-kempyung yang berurutan, dan dibagi dua berdasarkan urutan ganjil dan genap. Urutan kempyung ganjil disebut YANG (jantan) dan yang genap disebut YIN (betina). Laras Huang-Tjong ini berkembang menjadi induk segala nada dalam seni suara di dunia, maka dengan ini berarti tercapailah keinginan sang raja dr kerajaan Huang-Ti tersebut.









Kempyung Kawat Se Ma Tsien
            Dalam perkembangan etnomusikologi Cina yang baru, teori kempyung tiup yg didasari dari seruling kurang diminati lagi karena kurang praktis dan sistematis. Dan berkembang teori lain dari kempyung kawat oleh Se Ma Tsien dari jaman kerajaan Tang ( 620 M) yang lebih praktis dan mudah. Hitungan-hitungan dari kempyung kawat Se Ma Tsien ini secara tidak sengaja juga sama yang dibuat oleh Pujangga Yunani Phythagoras (530 M). Kedua hitungan-hitungan mereka itu berdasarkan pada kecerdasan akal pikir atau perhitungan logika bukan dari kodrat alam seperti dasar dari kempyung tiup.
Kempyung Kawat dibagi dua menjadi Kempyung Atas dan Kempyung Bawah; Kempyung Atas terbentuk dari kawat tegang yang diperpendek menjadi 2/3nya. Sedangkan Kempyung Bawah terbentuk dari kawat tegang yang diperpanjang menjadi 4/3nya.
Se Ma Tsien memulai dari kawat tegang diperpendek 2/3 menjadi kempyung pertama, kemudian yang kedua diperpanjang menjadi 4/3 menjadi kwart bawahnya.  Yang ketiga diperpendek lagi 2/3, yang keempat diperpanjang 4/3, dan seterusnya hingga 12 kali.
Dari Laras Huang-Tjong menjadi Laras Pelog
        Dari sebuah penelitian  yang dilakukan oleh seorang ahli budaya dan music Tiongkok  berkebangsaan Jerman, Prof.Dr.E.M. von Hornbostel (1934) tentang laras Huang-Tjong didapatkan bahwa jumlah nada dari laras tersebut adalah 366Hz. Sedangkan kempyung dari hasil tiupan sulingnya dinamakan kempyung tiup, tercatat 678 cents. Dari kempyung-kempyung tiup nomor ganjil kemudian dirangkum dalam satu gembyang (oktaf), maka terbentuk suatu laras yang dinamakan laras pelog asli  (1919). Dari nada-nada itu dapat mengisar (toleransi) sampai 15 cents, hingga dapat menutup kekurangan nada terakhir menjadi nada satu gembyang yang tepat 1200 cents.
            0     156     312     468     624     780     936     1092   dlm cents
Laras pelog asli dengan pengisaran (toleransi) ini berkembang di wilayah Birma, Siam, Malaysia, Indonesia, Madagaskar, Kep.Samudera Teduh, Melanesia, Polinesia, Brazilia Barat Daya dan Peru Lima.
             Di Jawa dan Bali, laras pelog Hornbostel (pelog asli) ini sudah tidak ada, tetapi telah diaplikasikan oleh Konservatori Karawitan Indonesia Surakarta ke dalam alat music harmonica ( Agustus 1952), yg identik dengan laras Cina (Huang-Tjong).
Perkembangan Laras Pelog dan Terbentuknya Laras Slendro di Indonesia
              Di Indonesia teori Hornbostel  dikembangkan dengan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh sarjana etnomusikologi Belanda, Jaap Kunst. Penelitian dilakukan ke sebagian besar jenis gamelan di nusantara Indonesia, terutama Jawa, Bali dan Madura dengan lebih kurang 180 embat. Dengan data-data dan hitungan yang meluas Jaap Kunst telah dapat membuktikan kebenaran teori Hornbostel (1934). Dan menyimpulkan bahwa normalisasi laras pelog Jawa dan Bali itu bersruti (interval) sebagai berikut :
        0     156     415     535     685     955     1085     1200 cents
Dari laras pelog ini kemudian oleh Konservatori Karawitan Indonesia dibuat susunan laras pelog yang lebih praktis digunakan dan lebih sistematis, menjadi :
        0     120     360     630     770     890     1030     1200 cents
Laras Slendro Hornbostel-Kunst
              Sedangkan terbentuknya laras slendro dengan diambil nada-nada Umschicht, yang didapatkan suatu kwart bersruti (interval) 468 cents ( kwart murni 498 dan kwart toleransi 500 ). Kwart 468 dibagi 2 menjadi 234 cents. Dari interval (sruti) 234 ct ini kemudian diteruskan hingga 5 kali, sehingga terbentuk menjadi  laras slendro berikut :  0_a_234_b_468_c_702_d_936_e_1170_f_1200 (abcde=234cent, f=30ct)
Kekurangan yang 30 cents dibagi rata untuk kisaran (toleransi) nada-nada dengan maksimum 6 cents.
Dari laras slendro ini kemudian dibentuk laras slendro yang lebih praktis digunakan dan lebih sistematis oleh Konservatori Karawitan Indonesia Surakarta menjadi :
        0     230     460     715     945     1200
Kesimpulan: Berdasar teori Honrbostel bahwa slendro itu terjadinya dari Umschichtleiter yang berlaras pelog.